RajaKomen
Kisah Mualaf! Dr. Jerald F. Dirks, Kepala Gereja Methodis yang Akhirnya Memilih Islam

Kisah Mualaf! Dr. Jerald F. Dirks, Kepala Gereja Methodis yang Akhirnya Memilih Islam

9 Feb 2022
1250x
Ditulis oleh : Admin

“Kenangan di masa kecil saya adalah mendengar suara lonceng gereja sebagai panggilan misa pada hari Minggu pagi, di sebuah kota kecil dan terpencil tempat saya dibesarkan. Gereja Methodis itu sudah tua, bangunannya terbuat dari kayu, dilengkapi dengan menara yang diatasnya terdapat lonceng gereja. Jaraknya cuma dua blok dari rumah saya. Ketika lonceng gereja berbunyi, kami sekeluarga berangkat ke gereja untuk mengikuti misa setiap hari Minggu pagi,” Dr Jerald F. Dirks mengenang kembali masa kecilnya, memulai kisahnya sebelum menjadi seorang muslim.

Di tahun 1950-an. gereja menjadi pusat kehidupan warga di kota-kota terpencil. Sejak kecil sampai kelas Delapan, Dirks rutin mengikuti sekolah Alkitab yang diselenggarakan setiap bulan Juni, selama dua minggu. Ia juga tetap rajin datang ke gereja untuk mengikuti misa setiap Minggu pagi, dilanjutkan dengan sekolah Minggu. Dirks kecil mengumpulkan banyak pin sebagai tanda kerajinannya setiap minggu dan mendapat penghargaan karena mampu menghapal isi Alkitab.

Ketika Dirks duduk di bangku SMP, gereja Menthodis di kota yang tidak pernah ditutup, sehingga ia dan keluarganya pindah ke gereja Methodis di kota lain yang terdekat. Gereja itu lebih besar sedikit dibandingkan gereja di kotanya. Pada masa itulah, Dirks merasa terpanggil untuk menjadi pendeta dan mulai mengarahkan perhatiannya untuk mengabdi pada gereja.

Dirks yang mulai berangkat remaja aktif dalam organisasi Methodist Youth Fellowship, yang mengantarnya menjadi salah satu pengurus pada konferensi dan ketua distrik. “Saya juga menjadi ‘penceramah’ tetap dalam acara tahunan Youth Sunday,” kata Dirks.

Aktivitas khutbahnya mulai menarik perhatian masyarakat luas. Dirks memberikan khutbahnya di berbagai tempat, selain di gereja. Pada usia 17 tahun, ia sudah menjadi mahasiswa di Harvard College. Tekadnya menjadi pendeta sudah bulat. Oleh karena itu, ia juga mendaftarkan diri ke perbandingan agama yang berlangsung selama dua semester. Pengajar kursus itu adalah Wilfred Cantwell Smith, yang memiliki spesifikasi sebagai pakar Islam.

“Selama perjalanan, saya tidak terlalu memperhatikan Islam dibandingkan perhatian saya pada agama lain, seperti Hindu dan Budha. Kedua agama yang saya sebutkan terakhir terlihat lebih mempengaruhi batin dan masih asing buat saya,” tutur Dirks.

“Sebaliknya, Islam terlihat mirip dengan agama Kristen yang saya anut. Karenanya, saya tidak terlalu konsentrasi penuh pada Islam. Tapi, saya masih ingat tugas karya tulis tentang konsep wahyu dalam Al-Quran. Untuk memenuhi persyaratan dan standar kursus yang ketat, saya berhasil menemukan sebuah perpustakaan dimana terdapat sekitar 12 buku tentang Islam, yang semuanya ditulis oleh penulis nonMuslim. Saya juga menemukan dua terjemahan berbeda dalam bahasa Inggris tentang arti Al-Quran,” sambung Dirks.

Di Harvard ia dijuluki “Hollis Scholar” karena Dirks menjadi salah satu calon mahasiswa teologi yang selalu diperhitungkan di akademinya. Ia lalu menjadi pendeta muda di United Methodist Church, dan tak berapa lama kemudian mendapat lisensi sebagai pendeta dari gereja tersebut.

Dirks lulus dari Harvard College tahun 1971. Ia lalu mendaftarkan diri ke Harvard Divinity School dan mendapat gelar Master of Divinity pada tahun 1974, setelah sebelumnya ditahbiskan masuk dalam jajaran kepastorang United Methodist Churc. Selama menyelesaikan pendidikan seminarinya, Dirks juga menyelesaikan program pendidikan untuk menjadi rohaniwan di Rumah Sakit Peter Bent Brigham di Boston. Setelah itu, ia bertugas sebagai pastor di dua gereja United Methodist di daerah terpencil di Kansas, selama beberapa tahun.

Menerima Islam

Dirks mulai berminat pada Islam setelah ia berkenalan dan berinteraksi dengan sejumlah orang Arab Amerika yang kebetulan muslim, untuk keperluan menerjemahkan dokumen-dokumen bahasa Arab, karena pada saat itu Dirks dan istrinya sedang melakukan riset tentang sejarah kuda Arab.

Kontak pertamanya adalah seorang muslim bernama Jamal pada suatu musim panas di tahun 1991. Untuk membantu menerjemahkan dokumen berbahasa Arab, Jamal datang ke rumah Dirks. Sore hari, ketika akan pulang, Jamal meminta izin menggunakan kamar mandi di rumah Dirks untuk berwudu karena sudah tiba waktu salat. Jamal lalu mengambil meminta lembaran koran yang digunakannya sebagai sajadah.

“Tanpa saya sadari, ketika itu Jamal sebenarnya sudah mempraktekkan dakwah. Ia tidak mengomentari fakta bahwa kami non-Muslim, dia tidak ceramah apapun tentang agamanya pada kami. Dia hanya memberi contoh pada kami,” ujar Dirks.

Hampir satu setengah tahun berinteraksi dengan Jamal. Jamal tidak pernah menceritakan apapun tentang Islam atau bertanya tentang agama Dirks. Sebaliknya, Dirks justru mulai belajar dari Jamal, bagaimana ia salat tepat waktu, bagaimana ia berperilaku dalam berbisnis maupun bersosialisasi, dan terutama cara Jamal berinteraksi dengan dua anaknya.

Lewat Jamal, Dirks mulai berkenalan dengan keluarga Arab muslim lainnya. Dirks memperhatikan bagaimana keluarga-keluarga muslim itu menerapkan etika yang menurut Dirks, lebih tinggi dibandingkan etika yang diterapkan oleh keluarga-keluarga Amerika.

Setelah menyaksikan sendiri bagaimana kehidupan keluarga muslim, tahun 1992, Dirks mulai menanyakan pada dirinya sendiri pertanyaan-pertanyaan yang serius, dimanakah ia dan apa yang ia lakukan. Desember 1992, Dirks mengakui bahwa ia tidak menemukan pertentangan antara keyakinan religiusnya dengan ajaran Islam. Dirks merasa siap untuk mengakui bahwa Tuhan itu Esa dan mengakui Nabi Muhammad Saw. Ia menyingkirkan buku-buku tentang Islam yang ditulis penulis non-Muslim dan mulai membaca terjemahan Al-Quran. Tapi ia masih ragu-ragu untuk membuat keputusan.

Bulan Maret 1993, Dirks dan istrinya liburan ke Timur Tengah. Waktu itu bertepatan dengan bulan Ramadan. Ia dan istrinya memutuskan untuk mencoba ikut berpuasa. Dirks bahkan ikut salat dengan teman-teman muslim yang baru ia kenal selama menikmati liburan itu.

Akhirnya, sekembalinya dari Timur Tengah, Dirks dan istrinya memutuskan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Setelah menjadi muslim, Dirks memperdalam pengetahuannya tentang Islam antara lain di Universitas Islam Imam Muhammad Ibn Saud di Arab Saudi pada tahun 1998. Tahun 1999. Dirks menunaikan ibadah umrah dan haji.

Sekarang, Dirks yang dikenal dengan nama Islam “Abu Yahya” menjadi salah satu cendekiawan muslim yang banyak menulis artikel dan buku tentang keagamaan. Ia juga menjadi memberikan kuliah tentang Islam di beberapa perguruan tinggi di AS, serta aktif dalam organisasi muslim di AS seperti ISNA, ICNA dan MAS.

Berita Terkait
Baca Juga:
Strategi Marketing Meningkatkan Penjualan dan Brand Awareness

Marketing Viral: Tren dan Strategi yang Harus Kamu Coba

Tips      

25 Maret 2025 | 214


Dalam dunia bisnis yang terus berkembang, strategi marketing menjadi salah satu kunci utama untuk mencapai kesuksesan. Salah satu tren yang semakin populer adalah marketing viral. Konsep ...

Cara Menulis Artikel SEO yang Menarik Jamaah Umroh dan Haji

Cara Menulis Artikel SEO yang Menarik Jamaah Umroh dan Haji

Tips      

21 Maret 2025 | 216


Dalam era digital saat ini, penting bagi bisnis yang bergerak di bidang perjalanan ibadah seperti umroh dan haji untuk memanfaatkan teknologi demi meningkatkan visibilitas mereka. Salah ...

liburan bersama keluarga

Inilah Sederet Manfaat Pergi Wisata Bersama Keluarga

Wisata      

16 Okt 2022 | 912


Kebanyakan orang menyenangi traveling, dan banyak orang yang percaya bahwa traveling adalah kegiatan yang wajib dilakukan, namun terkadang masih ada saja orang yang terganggu karena bingung ...

Cara Cek Lokasi Ujian CASN Secara Online, Mudah dan Cepat!

Cara Cek Lokasi Ujian CASN Secara Online, Mudah dan Cepat!

Pendidikan      

21 Apr 2025 | 230


Persaingan untuk menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) sangat ketat. Salah satu langkah penting dalam proses seleksi adalah melakukan ujian CASN. Pastinya, calon peserta ingin memastikan ...

SEO 2026: Mengapa Backlink Masih Penting dan Bagaimana RajaBacklink.com Bisa Membantu?

SEO 2026: Mengapa Backlink Masih Penting dan Bagaimana RajaBacklink.com Bisa Membantu?

Tips      

26 Maret 2025 | 198


Dalam dunia digital yang terus berkembang, strategi SEO menjadi faktor utama dalam meningkatkan visibilitas website. Salah satu elemen penting yang tetap relevan hingga tahun 2026 adalah ...

investasi halal bebas riba

Investasi Halal: Tumbuh Bersama dan Berkah Bersama

Tips      

15 Jun 2025 | 441


Dalam dunia modern yang penuh dengan ketidakpastian, perencanaan keuangan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Salah satu bentuk perencanaan keuangan yang paling disarankan adalah ...

Copyright ©2026 WarungInformasi.com - All rights reserved