Tryout.id
Mendingan Juga Mudik Saja

Mendingan Juga Mudik Saja

25 Feb 2022
850x
Ditulis oleh : Admin

BANYAK orang yang marah melihat keadaan. Ekonomi sulit. Kehidupan morat-marit. Pandemi Covid-19 entah sampai kapan berakhirnya. Dengan segala problematika yang ditimbulkannya. Dengan kebijakan PPKM yang terus berlanjut. Lalu terjadi pula kelangkaan beberapa barang kebutuhan pokok. Semua ini seakan sudah jadi azab tersendiri bagi rakyat yang tidak tahu apa salahnya. Sehingga mereka pasrah saja. Karena tidak punya tempat mengadu.

Sekarang, beberapa pengamat mengingatkan. Bahwa sejumlah persoalan hidup yang dirasakan rakyat saat ini akan meningkatkan “distrust” (ketidakpercayaan) anak bangsa terhadap pemerintah. Sebut saja misalnya kelangkaan minyak goreng. Sehingga harganya pun melambung tinggi. Begitu juga kelangkaan dan melambungnya harga kedele. Sehingga produsen tempe dan produk yang berbahan kedele lainnya dibuat kalang kabut.

Sejumlah persoalan lain juga membuat rakyat mengelus dada. Seperti penderitaan warga desa Wadas yang digerudug ratusan satuan polisi bersenjata lengkap. Rencana pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) yang terus mengundang polemik. Masalah vaksin dan swab anti-gen maupun PCR yang terkesan dipaksakan. Keharusan seluruh warga negara memiliki BPJS, agar dapat mengakses pelayanan publik.

Selain itu, beberapa kebijakan Kemenag yang sepertinya hanya diarahkan kepada umat Islam. Yang mengekang aktifitas keagamaan mereka. Mulai dari kebijakan pengunduran hari besar Islam dari tanggal semestinya. Jama’ah masjid harus berjarak 1 meter antara satu dengan yang lain. Lansia di atas 60 tahun sholat di rumah saja.

Terakhir, aturan penggunaan pengeras suara. Berikut tudingan radikal-radikulnya yang tidak pernah diarahkan kepada penganut agama lain. Masalah penganggguran, kemiskinan dan banyak hal lainnya.

Semua itu seperti tidak disadari pemerintah mengakibatkan meningkatnya ketidakpercayaan rakyat terhadap segala kebijakan yang dijalankannya. Karena segala bentuk protes tidak ditanggapi sebagaimana mestinya. Seperti bunyi pepatah: biarpun anjing menggonggong kafilah tetap berlalu.

Tadi pagi, saya berbincang dengan seorang sahabat. Soal kondisi kehidupan anak bangsa di negeri yang katanya kaya raya. Negeri yang orang bilang tanah surga. Di mana tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Seperti lirik lagu Koes Plus yang begitu terkenal itu. Tapi rakyatnya menjerit karena dihimpit kesulitan hidup yang tidak terperi.

Bagi mereka yang pernah merasakan hidup di era awal 1960-an, kondisi kehidupan sekarang dianggap sama dan sebangun dengan situasi di kala itu. Ketika pemerintahan Presiden Soekarno begitu dekat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Dan tokoh-tokoh bangsa – khususnya para pemimpin Islam yang anti-komunis – banyak yang ditangkapi. Dipenjarakan dalam jangka waktu yang tidak jelas. Tanpa proses pengadilan. Apalagi bagi mereka yang dituding terlibat dalam pemberontakan PRRI/Permesta.

“Antri sejumlah barang kebutuhan pokok waktu itu juga terjadi di mana-mana,” kata sahabat saya.

“Oya?” Sebenarnya saya tidak terkejut.

“Ya. Bahkan waktu itu lebih parah.”

Beberapa informasi seputar kondisi politik dan ekonomi kala itu tentu membuat kita cukup tercengang. Karena kondisinya sebagian dapat kita saksikan dan kita alami sekarang.

Di era demokrasi terpimpin Soekarno, banyak orang yang terkapar secara ekonomi. Tapi di saat yang sama terdapat segelintir orang yang justru jadi makmur dan kaya raya. Karena berhasil mendekat ke tampuk kekuasaan. Karena berhasil memperoleh sejumlah konsesi proyek tertentu. Karena rakus juga dan tidak pernah berpikir tentang kehidupan rakyat yang makin sengsara.

Sebuah tulisan Wartawati senior Nanik S. Deyang hari-hari ini beredar di berbagai platform media. Yang bicara tentang para taipan dan konglomerat Cina pengusaha batu bara yang bisa menghasilkan uang sampai Rp 500 triliun setahun. Sehingga, katanya, dengan kekuatan uang mereka bisa dengan mudah mengendalikan partai.

Mengutip ekonom senior Faisal Basrie, Nanik menulis: “Dan bagi mereka kecil jika hanya mengeluarkan uang 50 triliun untuk memenangkan Presiden dan Wakil Presiden yang mereka inginkan.”

Sebegitu parahnyakah?

Di era 1960-an itu, harga barang-barang kebutuhan pokok melonjak luar biasa. Berbarengan dengan inflasi yang meningkat tidak karu-karuan. Bahkan sampai beberapa ratus persen. Hal ini diperparah lagi oleh kelangkaan sejumlah barang kebutuhan pokok. Sehingga menjadi pemandangan yang umum di mana-mana. Ketika rakyat harus antri untuk dapat membeli beberapa barang kebutuhan tertentu.

Yang cukup menarik, bagaimana pemerintah terus mengumbar semangat revolusi yang kian kebablasan. Ambisi Presiden Soekarno agar Indonesia tampil merdeka secara ekonomi dilakukan dengan berbagai cara. Termasuk dengan melakukan kebijakan pembatasan masuknya modal asing. Sementara kemampuan pemerintah dalam mengatasi persoalan-persoalan yang timbul dalam kaitan dengan itu semakin jongkok.

Baca Juga:
Berikut adalah 4 Tipe Istri Bisa Masuk Neraka, Naudzubillah!

Berikut adalah 4 Tipe Istri Bisa Masuk Neraka, Naudzubillah!

Tips      

2 Feb 2022 | 1021


Seorang istri sejatinya akan mudah masuk surga, tetapi kalau salah-salah juga sangat mudah masuk neraka. Hal itu karena cerminan sikap dan perilakunya dalam rumah tangga. Sejatinya ...

website bisnis

Strategi Cerdas untuk Meningkatkan Visibilitas Website Bisnis Kecil Anda

Tips      

16 Mei 2025 | 218


Dalam era digital saat ini, keberadaan online menjadi sangat vital bagi setiap bisnis, terutama bagi bisnis kecil yang ingin bersaing dengan pemain besar. Salah satu kunci sukses untuk ...

pesanten Al Masoem Bandung

Kegiatan Kesehatan Mental dan Rohani di SMA Islam Al Masoem Bandung

Pendidikan      

8 Jul 2024 | 413


SMA Islam Al Masoem Bandung merupakan salah satu SMA Islam di Bandung yang juga dikenal sebagai pesantren di Bandung dan SMA boarding school di Bandung. Sebagai lembaga pendidikan yang ...

Google

Sistem Penilaian CASN: Kontribusinya terhadap Peningkatan Layanan Publik

Pendidikan      

12 Apr 2025 | 233


Sistem Penilaian Calon Aparatur Sipil Negara (CASN) menjadi salah satu komponen penting dalam upaya meningkatkan kualitas layanan publik di Indonesia. Dengan adanya sistem ini, proses ...

Cinta Lingkungan dengan Mengurangi Sampah

Cinta Lingkungan dengan Mengurangi Sampah

Tips      

23 Maret 2022 | 1011


Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa sampah sudah menjadi perhatian seiring dengan meningkatkan pencemaran yang ada di udara, tanah sampai laut. Kehidupan manusia di bumi sudah ...

Buzzer

Buzzer Pilkada dan Dilema Media Sosial: Menyikapi Kontroversi Buzzer Politik Melalui Rajakomen.com

Politik      

18 Mei 2025 | 235


Kontroversi buzzer politik menjadi isu yang semakin mendapatkan perhatian dalam setiap gelaran pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Indonesia. Banyak kalangan merasa bahwa fenomena ini ...

Copyright ©2026 WarungInformasi.com - All rights reserved